Dalam bisnis kuliner, kehabisan bahan baku bisa menghambat operasional dan membuat pelanggan kecewa.
Di sisi lain, menyimpan terlalu banyak bahan baku juga berisiko menambah biaya penyimpanan hingga menyebabkan bahan makanan rusak sebelum digunakan.
Lantas, kapan waktu yang tepat untuk membeli stok lagi?
Salah satu cara yang bisa kamu terapkan adalah menggunakan reorder point. Apa itu? Yuk, pahami pengertian, cara menghitung, dan contoh penerapannya dalam bisnis kuliner!
Apa Itu Reorder Point?
Reorder point (ROP) adalah titik persediaan yang menjadi penanda bahwa bisnis perlu melakukan pemesanan ulang sebelum stok habis.
Konsep ini membantu pemilik usaha menentukan kapan harus membeli bahan baku atau produk baru berdasarkan kebutuhan operasional.
Misalnya, kamu memiliki usaha restoran yang menjual menu ayam geprek. Ayam, beras, minyak goreng, dan cabai merupakan bahan baku yang perlu tersedia setiap hari.
Jika stok ayam terus berkurang, kamu perlu mengetahui kapan harus memesan kembali agar persediaannya cukup sampai kiriman berikutnya datang. Nah, reorder point membantu menentukan batas tersebut.
Dengan begitu, keputusan restock tidak hanya mengandalkan perkiraan, tetapi juga mempertimbangkan tingkat penggunaan bahan baku dan waktu pengiriman dari pemasok.
Mengapa Reorder Point Penting untuk Bisnis?
Menentukan reorder point dapat membantu bisnis kuliner menjaga ketersediaan bahan baku sekaligus mengendalikan biaya operasional. Berikut beberapa manfaatnya.
Mengurangi Risiko Kehabisan Stok
Kehabisan satu bahan baku saja bisa membuat menu tertentu tidak tersedia. Kondisi ini berpotensi mengurangi penjualan dan mengecewakan pelanggan.
Dengan menentukan reorder point, kamu dapat memesan bahan baku sebelum persediaannya habis.
Membantu Mengatur Modal
Pembelian bahan baku yang berlebihan dapat membuat modal tertahan dalam persediaan. Padahal, uang tersebut mungkin dibutuhkan untuk membayar gaji karyawan, biaya operasional, atau kebutuhan bisnis lainnya.
ROP membantu menentukan waktu pembelian berdasarkan kebutuhan sehingga pengeluaran lebih terencana.
Membuat Pengelolaan Stok Lebih Teratur
Kamu tidak perlu menunggu sampai bahan baku hampir habis untuk mulai mencari pemasok. Dengan batas restock yang jelas, proses pengadaan bisa direncanakan lebih awal dan disesuaikan dengan jadwal operasional.
Menjaga Kepuasan Pelanggan
Ketersediaan bahan baku membantu restoran menyajikan menu secara konsisten. Pelanggan pun tidak perlu kecewa karena menu favorit mereka tidak tersedia.
Faktor yang Perlu Diperhatikan Sebelum Menentukan Reorder Point
Sebelum menghitung ROP, ada beberapa komponen yang perlu kamu perhatikan.
Rata-Rata Penjualan atau Permintaan Harian
Perhatikan jumlah bahan baku yang digunakan atau produk yang terjual setiap hari. Misalnya, restoran menggunakan rata-rata 10 kilogram ayam per hari.
Gunakan data ini sebagai dasar untuk memperkirakan kebutuhan selama menunggu kiriman berikutnya.
Untuk bisnis kuliner, penggunaan bahan baku sering kali lebih relevan daripada jumlah produk yang terjual.
Kamu bisa memperkirakannya berdasarkan resep, jumlah porsi, dan catatan penjualan.
Lead Time
Lead time merupakan rentang waktu yang diperlukan mulai dari pemesanan barang kepada pemasok hingga barang tersebut tiba dan siap diterima.
Jika pemasok membutuhkan waktu tiga hari untuk mengirimkan ayam, kamu perlu memastikan persediaan cukup untuk memenuhi kebutuhan selama periode tersebut.
Safety Stock
Saat kamu menyimpan stok tambahan dengan tujuan mengantisipasi kondisi tak terduga, misalnya meningkatnya permintaan atau keterlambatan pasokan dari pemasok, persediaan ini disebut safety stock.
Jumlahnya perlu disesuaikan dengan karakteristik bahan baku, risiko keterlambatan pemasok, dan pola penjualan.
Untuk bahan makanan yang mudah rusak, stok cadangan sebaiknya ditentukan dengan hati-hati agar perlindungan terhadap kekurangan stok tidak justru menimbulkan pemborosan.
Cara Menghitung Reorder Point
Cara menghitung reorder point cukup sederhana. Kamu bisa menggunakan rumus berikut:
Reorder Point = (Rata-Rata Kebutuhan Harian × Lead Time) + Safety Stock
Keterangan:
- Rata-rata kebutuhan harian adalah jumlah bahan baku yang digunakan setiap hari.
- Lead time adalah waktu tunggu pengiriman dari pemasok.
- Safety stock adalah persediaan cadangan untuk mengantisipasi ketidakpastian.
Studi Kasus: Menentukan Reorder Point

Agar lebih jelas, mari kita lihat contoh studi kasus berikut ini.
Restoranmu menggunakan 10 kilogram ayam per hari. Pemasok membutuhkan waktu tiga hari untuk mengirimkan pesanan, sedangkan restoran menetapkan safety stock sebesar 5 kilogram.
Perhitungannya adalah:
ROP = (10 kg × 3 hari) + 5 kg
ROP = 30 kg + 5 kg
ROP = 35 kilogram
Artinya, ketika persediaan ayam mencapai 35 kilogram, restoran perlu melakukan pemesanan ulang.
Angka tersebut merupakan batas untuk memulai proses restock, bukan jumlah yang harus dibeli.
Jumlah pembelian tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan berikutnya, kapasitas penyimpanan, umur simpan bahan baku, dan jadwal pengiriman pemasok.
Tips Menentukan Reorder Point agar Lebih Akurat
Agar ROP benar-benar membantu operasional bisnis, terapkan beberapa tips berikut.
- Gunakan data penggunaan bahan baku. Catat pemakaian harian agar perkiraan kebutuhan lebih realistis.
- Perhatikan perubahan permintaan. Penjualan saat akhir pekan, musim liburan, atau Ramadan bisa berbeda dari hari biasa.
- Evaluasi kinerja pemasok. Catat waktu pengiriman aktual untuk mengetahui apakah lead time sesuai perkiraan.
- Sesuaikan stok cadangan dengan jenis bahan. Bahan tahan lama dan bahan mudah rusak membutuhkan pendekatan penyimpanan yang berbeda.
- Periksa persediaan secara berkala. Perbarui ROP jika penjualan, menu, pemasok, atau pola operasional berubah.
- Manfaatkan pencatatan digital. Data penjualan dan penggunaan stok dapat membantu kamu mengidentifikasi bahan yang cepat habis maupun yang cenderung menumpuk.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menentukan Reorder Point
Ada beberapa kesalahan yang perlu dihindari ketika menerapkan ROP.
Pertama, menentukan batas restock hanya berdasarkan perkiraan tanpa melihat data penjualan atau penggunaan bahan baku.
Kedua, menganggap waktu pengiriman pemasok selalu sama.
Ketiga, menetapkan stok cadangan terlalu besar tanpa mempertimbangkan umur simpan bahan makanan.
Kesalahan lainnya adalah tidak memperbarui perhitungan ketika permintaan berubah.
Akibatnya, bisnis bisa mengalami kekurangan stok saat penjualan meningkat atau justru menanggung pemborosan karena persediaan berlebihan.
Karena itu, jadikan ROP sebagai acuan yang dievaluasi secara berkala, bukan angka tetap yang berlaku untuk semua kondisi.
Kelola Bisnis Lebih Praktis dengan Kasflo
Menentukan waktu restock yang tepat akan lebih mudah jika kamu memiliki pencatatan penjualan dan operasional yang teratur.
Dalam bisnis kuliner, kamu perlu mengetahui menu yang paling laris, kebutuhan bahan baku, serta persediaan yang tersedia agar keputusan pembelian lebih terarah.
Kasflo Resto dapat menjadi pilihanmu, pemilik atau pengelola usaha kuliner, yang membutuhkan sistem kasir sekaligus dukungan pengelolaan operasional bisnis.
Aplikasi ini membantu restoran dan bisnis F&B untuk mengelola transaksi, menu, bahan baku, pelanggan, hingga laporan bisnis dalam satu sistem.
Dengan proses pencatatan yang lebih terorganisasi, kamu dapat mendukung pemantauan aktivitas penjualan dan pengambilan keputusan bisnis sehari-hari.
Yuk, kelola operasional bisnis kuliner dengan lebih praktis bersama Kasflo Resto. Dengan pencatatan yang rapi dan perencanaan stok yang tepat, kamu bisa mengurangi risiko kehabisan bahan baku maupun penumpukan persediaan.
FAQ (Frequently Asked Questions) Seputar Reorder Point
Apa yang dimaksud dengan reorder point?
Reorder point adalah batas persediaan yang menjadi penanda bahwa bisnis perlu memesan ulang atau restock sebelum stok habis.
Apa perbedaan reorder point dan safety stock?
ROP menentukan kapan pemesanan ulang perlu dilakukan, sedangkan safety stock merupakan persediaan cadangan untuk menghadapi ketidakpastian permintaan atau pengiriman.
Apakah semua bisnis perlu menggunakan reorder point?
ROP bermanfaat bagi bisnis yang mengelola persediaan, termasuk restoran, kafe, toko sembako, dan usaha ritel.
Kapan reorder point harus dihitung ulang?
ROP perlu dievaluasi ketika pola penjualan berubah, waktu pengiriman pemasok bergeser, menu bertambah, atau kebutuhan bahan baku mengalami perubahan yang signifikan.


