Cara Mengetahui Apakah Bisnis F&B Benar-Benar Menguntungkan?

Bisnis F&B apakah menguntungkan?

Bisnis Food and Beverage (F&B) atau makanan dan minuman sering terlihat menjanjikan. Setiap hari orang membutuhkan makanan, minuman, camilan, kopi, hingga berbagai menu kekinian. Tidak heran jika bisnis F&B menjadi salah satu sektor yang banyak diminati oleh pelaku usaha.

Namun, ramainya pelanggan belum tentu berarti bisnis benar-benar menguntungkan.

Sebuah restoran atau kafe bisa terlihat ramai, tetapi ternyata keuntungan yang diperoleh sangat kecil karena biaya bahan baku tinggi, pemborosan, biaya operasional membengkak, atau harga jual tidak dihitung dengan tepat. Sebaliknya, bisnis F&B dengan jumlah transaksi yang tidak terlalu besar bisa saja memiliki keuntungan yang sehat karena mampu mengontrol biaya dan menjaga margin.

Lalu, bagaimana cara mengetahui apakah bisnis F&B benar-benar menguntungkan?

Jawabannya bukan hanya dengan melihat omzet. kamu perlu memahami beberapa indikator keuangan dan operasional, mulai dari omzet, HPP, gross profit, biaya operasional, net profit, food cost, hingga arus kas. Artikel ini akan membahas cara menghitung dan mengevaluasi keuntungan bisnis F&B secara lebih lengkap.

Omzet Besar Belum Tentu Untung Besar

Bisnis F&B apakah menguntungkan?

Kesalahan yang cukup umum dilakukan pemilik bisnis F&B adalah menganggap omzet sebagai keuntungan. Misalnya, sebuah restoran menghasilkan omzet Rp100 juta per bulan. Sekilas angka tersebut terlihat besar. Namun, bagaimana jika:

HPP mencapai Rp45 juta?

Gaji karyawan Rp20 juta?

Sewa tempat Rp15 juta?

Listrik dan internet Rp5 juta?

Biaya platform delivery Rp7 juta?

Biaya operasional lainnya Rp6 juta?

Jika seluruh biaya dijumlahkan, keuntungan bersihnya hanya sekitar Rp2 juta. Artinya, omzet Rp100 juta tidak otomatis berarti bisnis menghasilkan keuntungan Rp100 juta. Karena itu, pemilik bisnis perlu melihat berapa uang yang benar-benar tersisa setelah seluruh biaya dikurangi.

1. Hitung Omzet Bisnis F&B

Langkah pertama adalah mengetahui total penjualan. Rumus sederhananya: Omzet = Harga Jual × Jumlah Produk Terjual

Contoh: Sebuah kedai menjual rata-rata 100 porsi makanan per hari dengan harga rata-rata Rp30.000. Jika beroperasi selama 30 hari: 100 × Rp30.000 × 30 = Rp90.000.000. Maka omzet bulanan sekitar Rp90 juta. Namun, angka ini baru menunjukkan total penjualan. Belum menunjukkan keuntungan. Karena itu, jangan berhenti pada angka omzet.

2. Hitung Harga Pokok Penjualan (HPP)

HPP atau Harga Pokok Penjualan merupakan salah satu komponen terpenting dalam bisnis F&B. HPP menunjukkan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk yang terjual. Dalam bisnis makanan dan minuman, HPP dapat mencakup:

  • Bahan makanan.
  • Bahan minuman.
  • Bumbu.
  • Saus.
  • Kemasan.
  • Topping.
  • Bahan pendukung yang terkait langsung dengan produk.

Misalnya, sebuah menu dijual seharga Rp30.000. Total bahan untuk membuat menu tersebut membutuhkan biaya Rp10.000. Maka: HPP = Rp10.000 

Sedangkan: Gross Profit = Harga Jual – HPP

Jadi: Rp30.000 – Rp10.000 = Rp20.000

Gross profit dari menu tersebut adalah Rp20.000 sebelum dikurangi biaya operasional lainnya.

3. Perhatikan Food Cost

Dalam bisnis F&B, salah satu metrik yang penting diperhatikan adalah food cost. Food cost menunjukkan seberapa besar biaya bahan baku dibandingkan dengan harga jual atau penjualan. Rumus sederhananya: Food Cost % = HPP ÷ Penjualan × 100%

Contoh: Total penjualan sebuah restoran dalam satu bulan adalah Rp100 juta. Total HPP bahan makanan yang digunakan sebesar Rp35 juta.

Maka: Food Cost = Rp35 juta ÷ Rp100 juta × 100% = 35%

Artinya, sekitar 35% dari penjualan digunakan untuk membiayai bahan baku.

 

Tidak ada satu angka food cost yang berlaku untuk semua bisnis F&B. Target yang sehat bergantung pada jenis usaha, konsep menu, harga jual, lokasi, dan struktur biaya. Yang lebih penting adalah mengetahui target food cost bisnis kamu dan memantaunya secara konsisten.

4. Hitung Gross Profit Margin

Setelah mengetahui omzet dan HPP, langkah berikutnya adalah menghitung gross profit.

Rumusnya: Gross Profit = Penjualan – HPP

Sedangkan gross profit margin: Gross Profit Margin = Gross Profit ÷ Penjualan × 100%

Contoh:

Penjualan = Rp100 juta

HPP = Rp35 juta

Maka: Gross Profit = Rp100 juta – Rp35 juta = Rp65 juta

Kemudian:

Gross Profit Margin = Rp65 juta ÷ Rp100 juta × 100% = 65%

Angka ini menunjukkan bahwa setelah membayar biaya bahan baku, masih terdapat Rp65 juta untuk membiayai operasional dan menghasilkan keuntungan.

5. Jangan Lupakan Biaya Operasional

Setelah menghitung gross profit, kamu perlu mengurangi biaya operasional.

Biaya operasional bisnis F&B dapat meliputi: Gaji karyawan, sewa tempat, listrik, air, gas, internet, biaya kebersihan, marketing, maintenance peralatan, biaya administrasi, komisi platform delivery, biaya kemasan tertentu dan pajak dan biaya lainnya.

Contohnya: Gross Profit = Rp65 juta

Kemudian biaya operasional:

Gaji: Rp20 juta
Sewa: Rp15 juta

Utilitas: Rp5 juta

Marketing: Rp3 juta

Biaya lainnya: Rp7 juta

Total biaya operasional = Rp50 juta

Maka: Laba Operasional = Rp65 juta – Rp50 juta = Rp15 juta

Inilah alasan kenapa hanya melihat omzet tidak cukup untuk mengetahui kesehatan bisnis.

6. Hitung Net Profit Margin

Untuk mengetahui apakah bisnis benar-benar menghasilkan keuntungan, lihat net profit.

Rumus sederhananya: Net Profit = Total Pendapatan – Total Biaya

Kemudian: Net Profit Margin = Net Profit ÷ Penjualan × 100%

Contoh: Penjualan = Rp100 juta, total biaya = Rp85 juta

Maka: Net Profit = Rp15 juta, net Profit Margin: Rp15 juta ÷ Rp100 juta × 100% = 15%

Artinya, setiap Rp100 penjualan menghasilkan sekitar Rp15 laba bersih setelah seluruh biaya yang dihitung dikurangi.

7. Bedakan Laba dengan Arus Kas

Bisnis bisa terlihat untung di laporan tetapi mengalami masalah cash flow. 

Kenapa? Karena laba dan arus kas bukan hal yang sama.

Misalnya, restoran memiliki keuntungan secara akuntansi tetapi pada saat yang sama harus membayar:

  • Pembelian stok dalam jumlah besar.
  • Cicilan peralatan.
  • Renovasi.
  • Deposit sewa.
  • Utang supplier.

Akibatnya, uang tunai yang tersedia bisa jauh lebih kecil dibandingkan laba yang tercatat. Karena itu, pemilik bisnis F&B sebaiknya memantau dua hal:

Profitability: Apakah bisnis menghasilkan keuntungan?

Cash Flow: Apakah bisnis memiliki uang tunai yang cukup untuk menjalankan operasional? Keduanya harus sehat.

8. Hitung Break Even Point (BEP)

BEP atau Break Even Point adalah titik ketika pendapatan bisnis sama dengan total biaya. Pada titik tersebut pendapatan = Total Biaya

Artinya bisnis belum mendapatkan keuntungan, tetapi juga belum mengalami kerugian.

BEP penting untuk menjawab pertanyaan: “Minimal berapa penjualan yang harus saya dapatkan setiap bulan agar tidak rugi?”

Secara sederhana, jika biaya tetap restoran adalah Rp30 juta per bulan dan margin kontribusi rata-rata 60%, maka: BEP Penjualan = Rp30 juta ÷ 60% = Rp50 juta

Artinya, bisnis perlu menghasilkan sekitar Rp50 juta penjualan untuk mencapai titik impas. Semakin jauh penjualan berada di atas BEP, semakin besar ruang bisnis untuk menghasilkan keuntungan.

9. Evaluasi Keuntungan per Menu

Jangan hanya melihat total keuntungan restoran. Lihat juga keuntungan setiap menu.

Misalnya:

Menu

Harga Jual HPP Gross Profit
Nasi Ayam Rp30.000 Rp10.000 Rp20.000
Mie Pedas Rp25.000 Rp12.000 Rp13.000
Kopi Susu Rp20.000 Rp5.000 Rp15.000

 

Dari tabel tersebut terlihat bahwa setiap menu memberikan kontribusi yang berbeda. Namun, jangan langsung menyimpulkan bahwa menu dengan gross profit terbesar harus selalu menjadi fokus utama.

Perhatikan juga jumlah menu yang terjual. Menu dengan keuntungan Rp10.000 tetapi terjual 1.000 kali dapat memberikan kontribusi lebih besar daripada menu dengan keuntungan Rp20.000 tetapi hanya terjual 100 kali. Karena itu, evaluasi menu sebaiknya melihat kombinasi: Margin, volume penjualan, popularitas, HPP, waktu produksi, potensi  pemborosan.

10. Pantau Menu yang Laris tetapi Marginnya Kecil

Ini merupakan salah satu insight penting dalam bisnis F&B. Bayangkan ada satu menu yang menyumbang 40% transaksi restoran, tetapi margin keuntungannya sangat kecil. Jika hanya melihat popularitas, kamu mungkin menganggap menu tersebut sangat bagus.

Padahal, menu tersebut bisa saja memberikan tekanan terhadap profit. Solusinya bukan selalu menghapus menu. Kamu dapat mempertimbangkan: Menyesuaikan harga, mengubah ukuran porsi, mengganti bahan tertentu, membuat bundling, menambahkan produk pendamping, mengurangi pemborosan bahan. Dengan demikian, menu tetap menarik bagi pelanggan tetapi kontribusinya terhadap keuntungan menjadi lebih baik.

11. Cek Food Waste dan Shrinkage

Kerugian bisnis F&B tidak selalu muncul dalam laporan sebagai biaya yang terlihat jelas. Salah satu sumber kebocoran adalah food waste. Contohnya:

  • Bahan makanan kedaluwarsa.
  • Sayuran rusak.
  • Bahan terlalu banyak dipersiapkan.
  • Kesalahan produksi.
  • Pesanan salah.
  • Porsi berlebihan.
  • Produk rusak karena penyimpanan yang tidak tepat.

Jika pembelian bahan baku mencapai Rp40 juta per bulan, tetapi sebagian besar terbuang, maka margin bisnis akan ikut tergerus. Karena itu, pengendalian stok bukan hanya soal mengetahui berapa banyak barang yang tersisa.

12. Lihat Performa dari Waktu ke Waktu

Jangan menilai bisnis hanya berdasarkan satu minggu atau satu bulan. Bandingkan performa secara berkala. Misalnya: Harian, mingguan, bulanan, per kuartal, tahunan. Beberapa metrik yang dapat dibandingkan: Omzet, jumlah transaksi, average transaction value, food cost, gross profit, net profit, jumlah pelanggan, produk terlaris, waste, biaya operasional. Dari data tersebut, kamu dapat melihat apakah bisnis mengalami pertumbuhan yang sehat atau hanya mengalami kenaikan omzet sementara.

Tanda-Tanda Bisnis F&B Kamu Sehat dan Menguntungkan

Berikut beberapa indikator yang dapat menjadi sinyal positif.

  • Penjualan stabil atau bertumbuh

Omzet tidak hanya tinggi sesekali, tetapi memiliki tren yang sehat.

  • Margin tetap terjaga

Penjualan naik tetapi biaya bahan baku dan operasional tetap terkendali.

  • Food cost sesuai target

Kenaikan harga bahan baku dapat segera terdeteksi dan ditindaklanjuti.

  • Cash flow positif

Bisnis memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan operasional.

  • Stok terkendali

Tidak banyak bahan yang rusak, hilang, atau kedaluwarsa.

  • Produk terlaris memberikan margin yang baik

Menu populer tidak hanya menghasilkan volume transaksi, tetapi juga berkontribusi terhadap profit.

  • Biaya operasional terkendali

Pertumbuhan omzet tidak diikuti kenaikan biaya secara tidak proporsional.

Tanda-Tanda Bisnis F&B Ramai tetapi Sebenarnya Tidak Sehat

Sebaliknya, waspadai kondisi berikut:

  • Restoran selalu ramai tetapi uang kas sering habis.
  • Omzet tinggi tetapi laba sangat kecil.
  • Food cost terus meningkat.
  • Banyak bahan makanan terbuang.
  • Stok sering tidak sesuai.
  • Harga jual tidak pernah dievaluasi.
  • Biaya delivery terlalu besar.
  • Diskon terlalu sering diberikan.
  • Gaji dan biaya operasional terlalu besar dibandingkan penjualan.
  • Pemilik tidak mengetahui laba bersih bulanan.

Jika beberapa kondisi tersebut terjadi, bisnis perlu segera melakukan evaluasi.

Bagaimana Teknologi Membantu Mengukur Profitabilitas F&B?

Menghitung profit secara manual tentu masih memungkinkan untuk bisnis yang sangat kecil.

Namun, ketika transaksi semakin banyak, pencatatan manual dapat menjadi sulit dan rawan kesalahan. Di sinilah sistem POS restoran dapat membantu. Dengan sistem kasir yang terintegrasi, data transaksi dapat dikumpulkan secara otomatis sehingga pemilik usaha memiliki data yang lebih rapi untuk dianalisis.

Sistem POS dapat membantu memantau: Penjualan, jumlah transaksi, produk terlaris, stok., harga produk, metode pembayaran, performa outlet, aktivitas kasir dan laporan penjualan.

Data tersebut kemudian dapat menjadi dasar untuk menghitung dan mengevaluasi profitabilitas bisnis.

Kenapa Kasflo Resto Bisa Membantu Pemilik Bisnis F&B?

Bagi pemilik restoran, kafe, kedai, atau bisnis kuliner yang ingin memiliki kontrol lebih baik terhadap operasional, Kasflo Resto dapat menjadi salah satu solusi yang patut dipertimbangkan.

Kasflo Resto menyediakan sistem POS untuk membantu bisnis F&B mengelola proses penjualan dan operasional secara digital. Fitur yang tersedia mencakup kebutuhan kasir, laporan, inventori, manajemen menu, hingga pengelolaan bisnis dari satu sistem.

Salah satu manfaat penting menggunakan sistem seperti ini adalah tersedianya data transaksi yang lebih terstruktur. Dengan data tersebut, pemilik bisnis tidak perlu hanya mengandalkan perkiraan ketika mengevaluasi performa restoran. Misalnya, ketika penjualan salah satu menu turun, kamu dapat melihat datanya dan mencari penyebabnya. Begitu juga ketika biaya bahan baku meningkat atau stok tidak sesuai.

Kasflo juga menyediakan dashboard laporan real-time, sehingga pemilik usaha dapat memantau kondisi bisnis dengan lebih mudah. Selain itu, sistemnya mendukung kebutuhan bisnis yang berkembang, termasuk pengelolaan multi-cabang. Bagi bisnis F&B yang ingin mengurangi ketergantungan pada pencatatan manual dan mulai mengelola usaha berdasarkan data, penggunaan POS dapat menjadi langkah penting.

Kesimpulan: Bisnis F&B yang Ramai Belum Tentu Menguntungkan

Mengetahui apakah bisnis F&B benar-benar menguntungkan membutuhkan lebih dari sekadar melihat omzet. Kamu perlu memahami: Omzet, HPP, food cost, gross profit, net profit, net profit margin, biaya operasional, cash flow, BEP, profit per menu, food waste, average transaction value. Dengan memantau indikator tersebut secara rutin, kamu dapat mengetahui apakah bisnis benar-benar menghasilkan keuntungan atau hanya terlihat ramai. Yang tidak kalah penting, gunakan data operasional sebagai dasar pengambilan keputusan. Jangan menunggu sampai akhir tahun untuk mengetahui bahwa margin bisnis terus menurun.

Mulai pantau bisnis F&B kamu dengan lebih terukur bersama Kasflo Resto. Dengan sistem kasir dan laporan yang terintegrasi, kamu dapat mengelola transaksi, memantau performa penjualan, mengontrol operasional, dan mendapatkan data yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan bisnis dengan lebih cepat. Jangan hanya tahu restoranmu ramai. Pastikan kamu tau berapa banyak keuntungan yang sebenarnya dihasilkan. Gunakan Kasflo Resto untuk mengelola bisnis F&B dengan lebih mudah dan berbasis data.

 

Gunakan Kasflo Di Sini!