Sales Forecasting Restoran: Panduan Mengatur Penjualan dan Stok

Sales forecasting restoran

Pernah mengalami bahan baku habis saat restoran sedang ramai? Atau justru mendapati banyak bahan makanan tersisa karena jumlah pembelian terlalu banyak? 

Masalah seperti ini sering terjadi ketika persiapan stok hanya mengandalkan perkiraan tanpa melihat pola penjualan.

Padahal, kamu bisa mengantisipasinya dengan sales forecasting restoran. Metode ini membantu memperkirakan jumlah penjualan pada periode mendatang berdasarkan data sebelumnya dan berbagai faktor yang memengaruhi permintaan. 

Dengan begitu, kamu dapat menyiapkan stok, mengatur pembelian bahan baku, hingga merencanakan operasional restoran secara lebih terarah.

Apa Itu Sales Forecasting Restoran?

Menggunakan data historis dan analisis kondisi bisnis untuk memprediksi jumlah sales yang akan terjadi pada periode mendatang disebut proses sales forecasting. 

Dalam operasional restoran, sales forecasting restoran membantu kamu memprediksi jumlah menu yang berpotensi terjual dalam satu hari, minggu, atau bulan.

Misalnya, data penjualan menunjukkan bahwa menu ayam geprek selalu ramai dipesan setiap akhir pekan. 

Informasi ini bisa menjadi dasar untuk memperkirakan jumlah porsi yang perlu disiapkan pada akhir pekan berikutnya.

Agar hasilnya lebih akurat, kamu perlu mempertimbangkan beberapa jenis data, seperti:

  • Penjualan historis: jumlah produk terjual dan omzet pada periode sebelumnya.
  • Hari dan periode: perbedaan penjualan pada hari kerja, akhir pekan, atau awal bulan.
  • Musim dan hari libur: perubahan permintaan selama liburan sekolah atau hari raya.
  • Promo: peningkatan pesanan akibat diskon atau paket menu.
  • Event: kegiatan di sekitar restoran yang berpotensi mendatangkan lebih banyak pelanggan.

Dengan menggabungkan data tersebut, kamu bisa membuat perkiraan yang lebih masuk akal daripada sekadar menebak jumlah penjualan.

Kenapa Sales Forecasting Penting untuk Restoran?

Beberapa alasan penting dari implementasi sales forecasting untuk restoran, meliputi:

Mengurangi Risiko Kehabisan Stok

Kehabisan bahan baku tentu menghambat penyediaan menu tertentu. Kondisi ini berisiko mengurangi penjualan dan memengaruhi pengalaman pelanggan.

Melalui forecasting, kamu bisa memperkirakan kebutuhan bahan baku berdasarkan jumlah menu yang diprediksi terjual. 

Dengan demikian, persediaan dapat mengiringi peningkatan permintaan.

Menghindari Stok Berlebihan

Menyediakan stok terlalu banyak juga bukan solusi. Bahan makanan segar memiliki masa simpan terbatas sehingga berisiko rusak jika tidak segera digunakan.

Forecasting membantu kamu menyesuaikan jumlah pembelian dengan kebutuhan. Hasilnya, risiko pemborosan bahan baku dapat ditekan dan pengelolaan persediaan menjadi lebih efisien.

Membantu Menentukan Jumlah Pembelian

Perkiraan penjualan bisa menjadi acuan untuk menghitung kebutuhan bahan baku. 

Kamu dapat menentukan berapa kilogram ayam, berapa liter minyak, atau berapa kilogram beras yang perlu disiapkan untuk periode tertentu.

Membantu Menyusun Strategi Penjualan

Data forecasting bukan hanya berguna untuk mengatur stok. 

Kamu juga bisa menggunakannya untuk merencanakan promo, menentukan menu unggulan, dan menyesuaikan jumlah tenaga kerja saat jam ramai.

Contohnya, jika penjualan minuman meningkat saat cuaca panas, kamu bisa menyiapkan stok minuman lebih banyak atau membuat paket menu yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

Cara Melakukan Sales Forecasting Restoran

Cara Melakukan Sales Forecasting Restoran

Tidak perlu perhitungan rumit untuk melakukan forecasting. Kamu dapat memulainya dengan langkah-langkah sederhana berikut.

Kumpulkan Data Penjualan

Hal yang perlu dilakukan adalah mengumpulkan data penjualan dari periode sebelumnya. Catat jumlah produk terjual, omzet, tanggal transaksi, dan menu yang paling banyak dipesan.

Jika memungkinkan, gunakan data beberapa minggu atau bulan agar kamu bisa melihat pola yang berulang. 

Identifikasi Pola Penjualan

Setelah data terkumpul, cari pola penjualan yang terlihat. 

Perhatikan apakah restoran lebih ramai pada akhir pekan, apakah menu tertentu lebih laku saat makan siang, atau apakah penjualan meningkat ketika ada promo.

Kamu juga perlu membandingkan penjualan pada periode yang sejenis. 

Hitung Rata-Rata Penjualan

Salah satu metode forecasting sederhana adalah menggunakan rata-rata penjualan historis.

Rumusnya:

Forecast penjualan = Total penjualan pada periode sebelumnya ÷ Jumlah periode

Metode ini cocok sebagai langkah awal bagi restoran. Namun, hasilnya perlu disesuaikan jika terdapat perubahan kondisi yang cukup signifikan.

Pertimbangkan Faktor yang Bisa Mengubah Penjualan

Pertimbangkan juga faktor-faktor yang mungkin memberikan perubahan daya jual. 

Misalnya, restoran yang berada di dekat kampus mungkin mengalami penurunan penjualan saat libur semester. Sebaliknya, restoran di kawasan wisata berpotensi mengalami peningkatan permintaan saat liburan panjang.

Gunakan Hasil Forecast untuk Menentukan Stok

Setelah memprediksi jumlah produk terjual, terjemahkan hasilnya menjadi kebutuhan bahan baku.

Misalnya, forecast menunjukkan penjualan 50 porsi ayam geprek. Jika setiap porsi membutuhkan 150 gram ayam, kebutuhan ayam yang diperkirakan adalah:

50 × 150 gram = 7.500 gram atau 7,5 kg ayam.

Jumlah tersebut merupakan kebutuhan dasar sebelum mempertimbangkan stok yang masih tersedia, potensi susut bahan, dan cadangan untuk mengantisipasi perubahan permintaan.

Jika stok ayam yang masih layak digunakan tersedia sebanyak 2 kg, kebutuhan pembelian dasar menjadi 5,5 kg.

Studi Kasus: Sales Forecasting Restoran

Anggap saja restoran milikmu ingin menyiapkan stok ayam untuk operasional akhir pekan. 

Berdasarkan data empat minggu sebelumnya, rata-rata penjualan ayam geprek adalah 40 porsi pada Jumat, 60 porsi pada Sabtu, dan 55 porsi pada Minggu.

Dengan menggunakan metode rata-rata, pemilik restoran membuat perkiraan berikut.

Hari Forecast Penjualan Kebutuhan Ayam (150 g/porsi)
Jumat 40 porsi 6 kg
Sabtu 60 porsi 9 kg
Minggu 55 porsi 8,25 kg
Total 155 porsi 23,25 kg

Dari hasil tersebut, kebutuhan ayam dasar untuk tiga hari adalah 23,25 kg. Namun, kamu mengetahui bahwa pada Sabtu mendatang akan ada acara komunitas di dekat lokasi usaha.

Informasi tersebut perlu dipertimbangkan karena berpotensi meningkatkan jumlah pelanggan. 

Kasus di atas menunjukkan bahwa sales forecasting seharusnya tidak berhenti pada perhitungan angka. 

Data penjualan perlu dihubungkan dengan kondisi aktual agar persiapan stok lebih sesuai dengan kebutuhan.

Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Melakukan Sales Forecasting

Beberapa kesalahan berikut perlu dihindari saat melakukan sales forecasting. 

Hanya Mengandalkan Perkiraan

Mengandalkan intuisi tanpa memeriksa data dapat membuat perkiraan meleset. Gunakan catatan transaksi sebagai dasar, lalu kombinasikan dengan pengetahuan tentang kondisi restoran.

Tidak Memperbarui Data

Pola penjualan dapat berubah seiring waktu. Evaluasi data secara berkala agar perkiraan tetap relevan dengan kondisi bisnis terkini.

Mengabaikan Faktor Eksternal

Promo, hari libur, perubahan cuaca, dan event dapat memengaruhi permintaan. Jika faktor-faktor tersebut diabaikan, hasil forecasting bisa terlalu rendah atau terlalu tinggi.

Tidak Menghubungkan Forecast dengan Stok

Perkiraan penjualan akan kurang bermanfaat jika tidak digunakan untuk merencanakan persediaan. 

Pastikan hasilnya menjadi acuan untuk menghitung kebutuhan bahan baku, memeriksa stok yang tersedia, dan menentukan jumlah pembelian.

Selain itu, bandingkan hasil forecast dengan penjualan aktual. Jika perkiraan menunjukkan 50 porsi, tetapi kenyataannya hanya terjual 35 porsi, cari tahu penyebab perbedaannya. 

Evaluasi ini membantumu memperbaiki perkiraan untuk periode berikutnya.

Gunakan Data Penjualan untuk Forecasting yang Lebih Praktis

Melakukan forecasting akan lebih mudah jika seluruh transaksi tercatat secara teratur. 

Data yang tersusun rapi membantu kamu mengenali menu terlaris, membandingkan performa penjualan antarperiode, dan mengevaluasi perubahan permintaan.

Untuk mendukung proses tersebut, kamu bisa menggunakan sistem kasir atau point of sale (POS) seperti Kasflo Resto. 

Fitur laporan penjualan membantu kamu memantau transaksi, sedangkan fitur pengelolaan bahan baku dan stok mendukung pencatatan persediaan restoran.

Dengan menghubungkan laporan penjualan dan inventory management, kamu dapat menjadikan data operasional sebagai dasar untuk menyiapkan bahan baku, merencanakan pembelian, dan mengurangi risiko pemborosan. 

Jadi, keputusan bisnis tidak hanya bergantung pada perkiraan, tetapi juga didukung oleh catatan yang lebih terstruktur.

Daftar Kasflo Resto

FAQ Sales Forecasting Restoran

Apa yang dimaksud dengan sales forecasting restoran?

Sales forecasting restoran adalah proses memperkirakan penjualan pada periode mendatang berdasarkan data historis dan faktor yang memengaruhi permintaan. 

Berapa lama data penjualan yang dibutuhkan untuk forecasting?

Kamu bisa mulai menggunakan data beberapa minggu sebagai gambaran awal. Namun, data beberapa bulan akan membantu mengidentifikasi pola mingguan, bulanan, atau musiman dengan lebih baik jika pencatatannya konsisten.

Apa hubungan sales forecasting dengan stok restoran?

Forecasting membantu memperkirakan jumlah menu yang akan terjual. Perkiraan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi kebutuhan bahan baku dengan mempertimbangkan stok yang tersedia, masa simpan, dan kebutuhan cadangan.

Apakah restoran kecil perlu melakukan sales forecasting?

Ya. Restoran kecil justru dapat memanfaatkan forecasting untuk mengatur pembelian, mengurangi risiko bahan baku terbuang, dan mengantisipasi kehabisan stok tanpa harus menggunakan metode yang rumit.

Apakah sales forecasting bisa dilakukan dengan aplikasi POS?

Bisa. Aplikasi POS membantu mencatat transaksi dan menyajikan laporan penjualan yang dapat digunakan sebagai dasar forecasting. Jika dilengkapi dengan fitur pengelolaan stok, sistem tersebut juga membantu menghubungkan data penjualan dengan kebutuhan persediaan.